Rabu, 03 Agustus 2011

AKIBAT PERCERAIAN

Saat malam itu aku dengar suara-suara yang sangat keras di rumahku. Seperti suara pecahan perabotan rumah yang sedang di banting dan di pecahkan. Aku semakin gelisah, aku takut dengan keadaan yang seperti ini. sebelumnya aku belum pernah mengalami hal yang seperti ini. aku terus mendekam di dalam kamarku. Tak ada sediktpun keberanianku untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Malam semakin larut, namun suara itu tak kunjung reda. Pertengkaran itu semakin mejadi-jadi sampai akhirnya aku memberanikan diriku keluar dari kamarku. Ku lihat ruang tamu di rumahku hancur berantakan dan ruang itu ku lihat sesosok laki-laki dan perempuan. Ya, memang benar mereka adalah orang tuaku. Air mataku tak dapat terbendung melihat kedua orang tua ku bertengkar. Sesungguhnya hati seorang anak akan hancur melihat orang tuanya bercerai. Dan akupun ingin mencoba melerai pertengkaran itu, namun sebuah tamparan yang aku dapat dari ayahku. Meskipun aku tau ayahku tidak sengaja melakukannya. Namun aku berfikir mungkin mereka sudah tak membutuhkan aku lagi.
Sebelumnya memang malam kian larut, namun saat ini berbeda keadaannya. Ini suasana di tengah malam. Aku tak mengerti apa yang di pikirkan kedua orang tua mengapa mereka tega mengorbankan kebahagiaan anaknya sendiri. Pikirku kosong, aku memutuskan pergi dari rumah yang seperti penjara itu.
Di tengah malam itu aku berjalan sendiri menyusuri jalanan di ibukota melangkah tanpa arah yang pasti. Hanya mengikuti langkah kaki ku berjalan semauku. Sempat aku berfikir sejenak, apakah mereka akan mencariku? Apakah mereka tau jika saat ini aku tak ada dirumah. Namun pikiran itu lalu tertangkis oleh pikiran bahwa mereka mungkin tak lagi peduli denganku.
Aku berjalan sendirian hanya mengandalkan modal keberanian. Hanya menyusuri kota, menahan rasa laparku di tengah malam itu. Aku mengerti ini memang salahku pergi meninggalkan rumah. Tapi mungkin ini lebih baik daripada aku terus seperti orang yang tidak berguna dirumah itu. Sesungguhnya aku takut melawan waktu. Namun apadaya aku telah memilih jalanku.
Nasibku kian tak menentu. Mengapa sampai saat ini tak ada seorangpun yang mencariku. Apa benar pikiranku bahwa orangtua ku sudah tak peduli denganku. Dua hari berlalu aku semakin tersiksa aku bingung karena tak punya tempat tinggal dan akupun tak tahan menahan rasa laparku selama dua hari ini. Sekarang aku mengerti ternyata tak mudah hidup jalanan. Terkadang sejenak aku berdiam di bawah kolong jembatan di ibukota ini. aku merenungi apa yang telah aku lakukan. Air mataku jatuh tak terhitung. Aku merindukan keluargaku...
Memang tak terfikir saat itu pada saat aku tengah mengamen di lampu merah aku meminta padasebuah mobil yang saat itu sedang berhenti di lampu merah. Sebelumnya memang aku tak tahu, tapi ada yang aneh pada perasaanku. Aku seperti mengenal sosok orang di dalam mobil itu. Orang di dalam mobil itu lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.
Aku terkejut, ternyata yang ada di dalam mobil itu adalah kedua orang tuaku. Seketika itu aku bingung harus melakukan apa. Aku langsung berlari menjauh dari mobil itu. Tanpa ku lihat sekelilingku yang ramai aku berlari tak tentu arah sampai akhirnya sebuah mobil dari arah timur melaju dengan cepat hngga akhirnya menabrakku. Aku tak tau apa-apa lagi setelah kejadian itu.
Tiga hari aku tak bisa membuka mataku. Aku koma, hanya suara-suara penyesalan yang aku dengar saat itu. Aku mendengar suara orang tuaku meminta maaf padaku. Aku sepertinya tau suara tangisan itu, ya itu memang suara tangisan dari ibuku yang sedih karena melihat aku tak sadarkan dari koma ku. Rasanya aku ingin bangun, aku ingin memeluknya. Namun mata ini susah untuk ku buka. Namun meskipun aku tak bisa menyentuh beliau aku dapat merasakan tangisan itu.
Dengan kekuatan tuhan, perlahan aku membuka mata ku kulihat senyum bahagia di wajah kedua orang tua ku saat ku membuka mata. Mereka pun saat itu berjanji padaku akan bersatu lagi demi kebahagiaanku. Rasanya aku sangat ingin mempersatukan mereka lagi. Ku pegang tangan kedua orang tuaku dan mempersatukan mereka kembali. Senyum bahagia itu tersimpul di wajahku rasanya ingin terus tetap bersama mereka. Namun tuhan berkata lain.. aku terlelap selamanya setelah melihat kedua orangtuaku bersatu. Namun terimakasih tuhan telah mengijinkan aku merasakan kebahagiaan itu di akhir hidupku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar